Kamis, 21 Januari 2021

opinión

 

Urgensi Pendidikan Bagi Perempuan

“To me, “beauty” means to be natural, cerative, honest – to say the truth”

_ Nawal El Sadawi_

Jika kita berbicara tentang perempuan dan pendidikan diawal tahun 2000 an, pasti banyak pergerakan yang mengaungkan tentang kesetaraan gender. Sejalan dengan gaungan tersebut nyatalah di tahun 2020 perempuan memiliki ruang bebas dalam berkarir serta mengenyam pendidikan khususnya, perempuan sekarang tidak melekat dengan 3 M (macak, masak, manak). Setelah apa yang diperjuangkan para pendahulu mengenai peran perempuan, pertanyaan untuk sekarang ini adalah bagaimana para generasi muda melanjutkan perjuangan para pejuang kesetaraan gender yang memberikan keleluasaan pendidikan. Bukan lagi untuk memperjuangkan hak – hak kesetaraan gender, namun lebih kepada kesungguhan para generasi muda dalam mengenyam pendidikan, sikap sungguh – sungguh serta ambisi untuk memperjuangkan impian setinggi – tingginya dan memajukan bangsa serta peradaban.

Fakta dilapangan membuktikan bahwa kesungguhan pada generasi muda masih dipertanyakan, dari laman liputan6.com menyebutkan "Negara-negara dengan pemasangan aplikasi TT terbanyak selama periode ini adalah pengguna berbasis di Amerika Serikat dengan 9,7 persen dan Indonesia dengan 8,5 persen," ujar Julia Chan, Mobile Insights Analyst dikutip dari keterangan resmi perusahaan. Dan jika kita memperhatikan postingan dari aplikasi tersebut rata – rata pengguna usia di bawah 30 tahun, redaksi bbc.com memberitakan bahwa pihak TT mengatakan bahwa rata – rata pengguna rentang usia 16 – 24 tahun, namun kenyataannya terdapat pengguna usia dibawah 13 tahun yang menyebabkan TT dikenakan denda oleh pihak berwenang AS sebesar US$5,7 juta. Hal ini sangat memprihatinkan sekali melihat para remaja lebih banyak menaruh minat pada hal – hal yang kurang bermanfaat sehingga potensi mereka yang bisa digali terbuang sia – sia. Walaupun tidak semua konten mengandung hal – hal yang kurang bermanfaat namun kebanyakan dan Sebagian besar ataupun dominan pada hal – hal unfaedah.

Fenomena tersebut adalah salah satu contoh dari sekian banyak hal – hal yang menyita waktu para generasi muda daripada menambah wawasan yang lebih bermanfaat lainnya. Terlenanya kaum muda ketika diberikan kemudahan akses serta kebebasan berexplore ditambah lagi role mode yang semakin didominasi kaum non islam menjadikan bergesernya orientasi dan paradigma mengenai kesuksesan hidup. Pada zaman sekarang yang serba instan membuat para generasi muda terbutakan dengan kesuksesan instan, mereka tidak menghargai proses untuk membentuk pribadi yang baik namun orientasi hanya pada hasil, tentunya yang instan juga.

Fokus kembali dalam masalah pendidikan, didalam islam sendiri dalam mencari ilmu atau dapat kita artikan Pendidikan tidaklah memandang gender sesuai dalam hadist yang sangat popular, yaitu mengenai kewajiban menuntut ilmu sebagai berikut :

طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim."

Diriwayatkan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha'if Sunan Ibnu Majah no. 224. Kata – kata “ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ” yang berarti atas setiap muslim tidaklah menunjukkan laki – laki saja ataupun perempuan saja, namun universal pada setiap orang yang beragama islam diwajibkan untuk menuntut ilmu, ilmu apapun wabil khusus ilmu syar’i.

Kemudian ditegaskan dalam QS. Al mujadalah ayat 11, yang berbunyi :

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا قِيۡلَ لَـكُمۡ تَفَسَّحُوۡا فِى الۡمَجٰلِسِ فَافۡسَحُوۡا يَفۡسَحِ اللّٰهُ لَـكُمۡ‌ ۚ وَاِذَا قِيۡلَ انْشُزُوۡا فَانْشُزُوۡا يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ‌ؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِيۡرٌ

Artinya : wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.

Didahului hadist yang menyeru kewajiban dalam menuntut ilmu, maka di surat al mujadalah ayat 11 adalah hasil yang akan didapatkan untuk orang -  orang yang bersedia menuntut ilmu yaitu akan diangkat derajatnya disisi Allah SWT. beberapa derajat, hal ini membuktikan bahwa keutamaan dalam menuntut ilmu dibandingkan orang yang jumud akan ilmu. Setelah seruan kewajiban serta keutamaan menuntut ilmu, Rasulullah SAW. Bersabda :

تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ)

 

Artinya, "Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu." (HR Tabrani).

Didalam menuntut ilmu terdapat nilai – nilai yang harus dipegang oleh pencari ilmu, salah satu yang terpenting adalah menghormati guru. Seseorang yang berjasa mengubah dari seseorang yang belum dan tidak tahu akan suatu ilmu menjadi orang yang berilmu. Sangat disayangkan sekali jika ada seorang murid berani bahkan tidak menghormati gurunya, bisa jadi ilmu yang didapatkan tidak berkah jika sang guru tidak meridhoinya, wallhu’alam bisshowab.

Dari perspektif saya sendiri sebagai seorang perempuan yang antusias serta sangat bangga jika melihat sesama perempuan berhasil dalam meraih pendidikan setinggi – tingginya, serta yang bersemangat akan mencari ilmu dan penasaran akan ilmu baru.  Dalam sebuah kajian keperempuaan yang saya ikuti beberapa hari yang lalu yang diisi oleh ibu Ratih Nur Anggraini, M. Sc dan sedang menyelesaikan PhD engineering mathematics di University of Bristol, UK. Beliau mengatakan alasan seorang muslimah harus berpendidikan mencakup 3 hal, yaitu :

1.      Madrasah pertama bagi anak – anaknya

2.      Partner bagi suami

3.      Da’i bagi masyarakatnya

Madrasah bagi anak – anak kita kelak adalah dasar yang paling utama mengapa kita (perempuan) harus berpendidikan. Tidak mungkin kita sebagai orang tua menjadikan penerus kita seseorang yang lemah secara akal maupun fisik, sedangkan hal apapun itu perlu dipelajari dalam Pendidikan formal maupun non formal. Kemudian partner bagi suami adalah impian bagi perempuan yang bisa menjadi partner dalam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya aspek biologis saja namun menjadi partner diskusi, partner menyelesaikan berbagai masalah didalam rumah tangga. Yang terakhir adalah da’i bagi masyarakat ialah orientasi dari ayat al – quran yang menyebutkan bahwa hendaklah segolongan orang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar tidak lain ialah peran seorang da’i, namun da’i disini tidak hanya terfokus pada seseorang penceramah, dapat diartikan seseorang yang menyeru pada kebaikan entah itu dalam aspek apapun dan dimanapun, dan sesungguhnya yang terpenting adalah dimulai dari diri sendiri. Dengan begitu dapat berkolerasi dengan ayat al qur’an lainnya yaitu sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya.

Benang merah pada tulisan kali ini ialah jangan sampai terlenanya generasi muda karena kemudahan akses pendidikan yang akhirnya menyesampingkan pendidikan itu sendiri sehingga belum siapnya generasi muda untuk menggantikan serta melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya yang telah menyuarakan nilai – nilai keadilan dan lain sebagainya. Jadi seberapa pentingkah pendidikan bagi generasi muda? terkhusus bagi perempuan? Jawabanya setelah pembaca menelaah tulisan ini, semoga bermanfaat. Fastabiqul Khoirot!