Jumat, 30 Oktober 2020

opinión

 

Iman dan penampilan

    Iman menurut arti dasarnya adalah percaya, namun sesuai implikasinya ialah mempercayai dengan hati, mengucapkan secara lisan, dan mempraktikkan secara amaliah. Dari pengertian tersebut tidak ada yang menyinggung tentang penampilan sama sekali, namun kenapa kebanyakan orang sering mengaitkan penampilan lahiriah seseorang dengan keimanannya?

    Pada dasarnya manusia hanya menilai dengan apa-apa yang hanya dapat dilihat dengan mata telanjangnya, namun tidak sedikit yang menelisik hingga perilaku ataupun sikapnya. Sedangkan penampilan adalah hak setiap individu, hak untuk mengekspresikan dirinya masing-masing. Walaupun terkadang penampilan memang sedikit banyak memperlihatkan sebenarnya diri seseorang dari beberapa aspek (pemikiran, hobi, ajang ekspresi diri, eksistensi dll) namun pada intinya tulisan ini hanya menegaskan bahwa penampilan sebenarnya tidak banyak kaitannya dengan iman.

    Namun  tidak di pungkiri jika keimanan seseorang dapat mengantarkan kepada penampilan yang religius, karena semakin ia percaya dzat penciptanya semakin dia mendalami ayat-ayatnya yang mengantarkan pada pemahaman tentang bagaimana seharusnya berpenampilan sesuai tuntunan-Nya. Bukan hanya sekedar ikut – ikutan, mengikuti trend, ataupun sebuah paksaan atau keterpaksaan, wallahu’alam bis showab.

      style is about confident, make your own style !   

Minggu, 13 September 2020

opinión

Social Media Mask

Istilah social media adalah media yang digunakan untuk berinteraksi social tanpa bertatap muka secara langsung. Yang mana para pengguna tidak memerlukan fisik untuk saling bersosialisasi.

Namun belakangan social media menjadi ajang untuk memposisikan diri di strata ataupun status social tertentu, atau lebih tepatnya agar di pandang sebagai strata tertentu yang dampaknya menjadi apa – apa yang terpampang di social media adalah sesuatu yang semu, bukan aslinya, atau sesuatu yang dibuat – buat yang bertujuan menyenangkan penontonnya (red. Friends in social media).

Dari pembahasan tersebut sehatkan social media untuk saling berinteraksi ? jika di awalnya saja terdapat banyak topeng yang digunakan, untuk memenuhi nafsu agar disukai friends in social media dengan tidak menjadi diri sendiri, banyak penelitian bahwa bahaya social media yang berdampak pada anxiety. Darimana bahayanya? Banyaknya cyber bullying yang sudah tak kenal tempat entah berdasarkan fakta maupun haox semata, maraknya berita tanpa asal usul yang jelas, memicu orang – orang bersumbu pendek  saling adu argument yang entah berdasar ataupun tidak. Sama sekali tidak mencerminkan sebuah kemajuan jika penggunaan social media berakibat demikian.

Harus ada hubungan sehat antara pengguna serta media sebagai alat perantara yang menunjukkan kemajuan peradaban dan zaman. Yaitu sebuah kesadaran positif untuk memanfaatkan social media dengan bijak bukan untuk kepentingan segelintir golongan bahkan individu serta pihak – pihak komersial.

Kapan ? rasanya tidak akan pernah terjadi… entahlah, setidaknya kegelisahan ini terungkapkan.