Berharap Pada Makhluq-Nya, Sungguh
Mengecewakan
“I
raise my head in hope - The ferris wheel turns - the stars, and the moon are beside you - The wind wanders freely with the night - Which cloud is crying? - Don’t know who I’m hurting for - My tears scatter with the rain - Because of you I resisted”
(Your silhouette- eleanor lee)
(Your silhouette- eleanor lee)
Setelah sekian lama tidak merasakan rasanya
jatuh cinta, mengagumi seseorang dengan latar belakang rasa suka. tiba – tiba tersengat
listrik dengan aliran paling tinggi, terkoyak hingga menangis tanpa suara
menjadi saksi yang mewakili perasaan saat itu. Setidaknya pada waktu itu tidak
sehisteris pertama kali ketika merasakan patah hati, udah pengalaman soalnya
hhe...
Lalu apa hubungannya dengan tema diatas? Sangat
berhubungan sekali guys, ketika kita
memilih mencintai dalam diam atau di konteks ini tidak mengutarakan karena
pinsip menghindari pacaran, secara tidak langsung kita menaruh harapan kepada
makhluqnya. Pertanyaanya lantas apakah dia akan tahu? Kemudian setelah dia tahu
lantas akan membalas perasaanmu kembali? Kemungkinan jawabannya hanya 2
(iya/tidak) maka kita ambil kemungkinan terburuknya yaitu “tidak”.
Ohh betapa menyesalnya jika tahu jawabannya
tidak, untuk apa selama ini kita menghabiskan tenaga memikirkannya sangat tidak
berfaedah sekali bukan. Kita harus bermuhasabah lagi merenung dengan diri
sendiri apakah sudah sejalan prinsip dangan aksi yang kita lakukan ‘tidak
pacaran tapi terlalu berharap pada seseorang’. Seyogyanya jika kita sudah
memegang prinsip dalam islam, aktivitas yang lain pun harus sejalan. Menerapkan
prinsip islam secara komprehensif tidak setengah – setengah. Lalu bagaimanakah cara
kita bermuhasabah?
- Mencintai karena Allah
Mari lihat kembali hati kita masing – masing,
selami lagi hati kita benarkah kita sudah mencintainya karena Allah? Seperti apakah
mencintai makhluq-Nya karena Allah? Apakah yang dengan mencintainya dapat
mengingatkan dengan Allah?
Mari kita perjelas kembali mencintai dia
karena Allah dengan mencintai Allah karena dia, hhe...gimana binggung gak? Coba
di baca lagi kemudian dipahami kembali. Jika sudah memahaminya kemudian tanya dengan
diri sendiri dibagian manakah kamu?
- Memantaskan Diri
Setelah kita meluruskan niat kita mengenai prinsip
mencintainya karena Allah, lalu apakah secara langsung kita akan mendapatkan
pangeran/permaisuri original dari Allah? Ataukan KW 1/2/3 atau malah KW super? Hhe...
Dalam firmanNya berbunyi :
ٱلزَّانِى
لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ
إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ
Laki-laki yang berzina tidak
mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan
perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina
atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang
mukmin. (An – Nur : 3)
Bagaimana kurang
jelaskah ayat di atas? Lalu apakah yang perlu kita persiapkan untuk menjemput dia,
seseorang yang engkau dambakan untuk menemanimu hingga akhir hayat dan harapan
akan berkumpul d SyurgaNya kelak. Tidak lain adalah memantaskan diri, dengan
apa? Pastinya memperbaiki diri kearah yang lebih baik, contohnya? Jika kita dahulu
masih tebiasa berlebihan gojek (sendaugurau) dengan lawan jenis mari kita
batasi, perbanyak ilmu agama, apalagi ilmu pernikahan. Mengapa saya menyebutkan
ilmu pernikahan? Karena jika kita telah memegang prinsip mencintai karena Allah
maka kita menjurus kepada penikahan, ikatan yang halal. Bukan lagi pacaran
ataupun komitmen – komitmen bullshit atau apalah itu. Hhe maaf bahasanya ya
teman – teman.
Kemudian ikhtiar yang terakhir adalah
menetapkan kriteria, jelaslah menurut sebuah hadist yang berbunyi :
تنكح
المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena
hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka
hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak
demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إذا
جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian
ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi
fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata
dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi).
Demikianlah hal – hal yang perlu kita persiapkan untuk
menjemput jodoh kita, sebagian materi saya dapatkan setelah mendengarkan kajian
ustdz Felix siauw dalam episode ngaji jomblo hhe...semoga bermanfaat bagi teman
– teman pembaca dan Alhamdulillah melegakan hati yang pernah galau ini.
