Jumat, 15 November 2013




 JANGAN BUANG WAKTU DENGAN SIA-SIA


Waktu adalah seluruh rangkaian saat = yang telah lewat, sekarang dan akan datang. Ia datang pergi tanpa memerdulikan kita, datang tanpa permisi dan tahu-tahu telah pergi meninggalkan kita . Dia terus berputar sambil memberikan tanda-tanda sebagai peringatan. Ketika pagi datang matahari muncul seolah menyapa pada kita dan segenap makhluq lain agar bangun dan membuka kembali alam pikiran, giat bekerja memperbaiki hidup. Matahari terus merayap dengan membawa isyarat-isyarat ditempatnya, yang bisa kita manfaatkan sesuai agenda harian kita.
Dia hadir sambil menyeret “jarum jam” dari pukul 06.00 sampai ke titik 18.00. Ketika matahari mulai bersembunyi di laut bagian barat, datanglah malam dengan kegelapan. Langit dipenuhi oleh bintang-bintang yang akrab menyelimuti bumi, dengan sesekali bulan menyeruak menampakkan keindahannya. Pada setiap malam juga muncul tanda-tanda yang juga bisa dimanfaatkan sebagai schedule aktivitas kita. Siang dan malam datang silih berganti, menari sambil meninggalkan hari, hari demi haripun kita lalui, sehingga bulan datang menghampiri. Ketika bulan terus berjalan, tiba-tiba tahun merayap menambah angakanya. Begitu seterusnya, sampai abadpun melintas dan umur kita habis termakan olehnya.
Hidup ini tidak lebih bagaikan air yang mengalir menuju muaranya, ia tidak mungkin bisa kembali ke hulu sebagai sumbernya. Demikian juga, tidak mungkin kita mengembalikan hidup berbalik ke arah  masa yang telah lalu. Seiring dengan berjalannya proses kehidupan, waktu terus bergulir. Hingga datang kiamat kelak. Oleh karena itu, betapa sia-sianya hidup ini apabila kita tiada menghiraukan kehadiran waktu dan memanfaatkannya untuk mencari kebaikan demi kebaikan, sambil muhasabah mengoreksi diri terhadap kelemahan-kelemahan yang ada untuk dibenahi.
Sebab, semakin bertambah usia, bukan identik panjang umur, akan tetapi lebih memperpendek jarak kita ke liang kubur. Sebagaimana di ungkapkan dalam sebuah syair :
     “Seseorang itu dalam hidupnya,
Tiada lain penunggang punggung umurnya.
   Dalam suatu perjalanan yang terus dikikis,
   Oleh hari demi hari dan bulan demi bulan
    Dia tidur dan terjaga setiap harinya,
          Semakin lama semakin menjauhi dunia
          Dan semakin dekat keliang kuburnya”
Maka tidak mengherankan kalau kemudian Rasulullah dengan arifnya menyerukan umat ini agar memanfaatkan kehadiran waktu yang terus berjalan acuh inidengan sebaik-baiknya.
“barang siapa yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, maka dia merugi. Dan barang siapa yang hari esok lebih buruk dari hari sekarang  maka dia (tergolong) celaka “sabda beliau.
Selain itu, Allah juga telah memperingatkan kepada kita dengan sebuah surat dalam Al-Qur’an : wal ‘ashri (demi waktu ashar) firmanNya : bahwa sesungguhnya manusia dalam kerugian”
Begitu istimewanya waktu ashar, sehingga di pakai simbol disini, memngingat pada waktu-waktu tersebut sering kita pakai untuk mengoreksi aktivitas dari pagi. Waktu ashar menjadi saat tempat mengevaluasi berhasil tidaknya program harian. Oleh karena itu, waktu ashar sering menjadi ajang penyesalan, sebab ketika itulah dia baru sadar bahwa apa yang menjadi targetnya telah gagal. Gagal menyelesaikan ambisi nafsunya yang biasanya begitu besar.
Untuk itu, Allah di dalam ayat selanjutnya memberikan jawaban untuk menyongsong keberhasilan hidup, dengan mengecualikan kelompok tertentu di tengah manusia yang umumnya merugi yaitu : orang-orang yang percaya pada kebenaran (amanuu), orang-orang yang beraktivitas berdasarkan kebaikan (‘amilus sholihat), mau saling memberi tahu soal kebenaran (tawashau bil haqq), dan orang-orang yang berwasiat untuk bersabar dalam kebenaran (tawashau bis shobri).
Demikianlah, setiap muslim akan berupaya menggapai keselamatan dan kemuliaan dalam setiap tarikan nafasnya, lewat neraca harian, mingguan, bulanan, tahunan, bahkan seumur hidup. Semua bermuara pada satu hal, yaitu keselamatan kita nanti di neraca alam mahsyar. Sebaik-baik tempat kembali adalah syurga dan seburuk-buruknya adalah neraka jahanam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar