JANGAN BUANG WAKTU DENGAN SIA-SIA
Waktu
adalah seluruh rangkaian saat = yang telah lewat, sekarang dan akan datang. Ia
datang pergi tanpa memerdulikan kita, datang tanpa permisi dan tahu-tahu telah
pergi meninggalkan kita . Dia terus berputar sambil memberikan tanda-tanda
sebagai peringatan. Ketika pagi datang matahari muncul seolah menyapa pada kita
dan segenap makhluq lain agar bangun dan membuka kembali alam pikiran, giat
bekerja memperbaiki hidup. Matahari terus merayap dengan membawa isyarat-isyarat
ditempatnya, yang bisa kita manfaatkan sesuai agenda harian kita.
Dia
hadir sambil menyeret “jarum jam” dari pukul 06.00 sampai ke titik 18.00.
Ketika matahari mulai bersembunyi di laut bagian barat, datanglah malam dengan
kegelapan. Langit dipenuhi oleh bintang-bintang yang akrab menyelimuti bumi,
dengan sesekali bulan menyeruak menampakkan keindahannya. Pada setiap malam
juga muncul tanda-tanda yang juga bisa dimanfaatkan sebagai schedule aktivitas
kita. Siang dan malam datang silih berganti, menari sambil meninggalkan hari,
hari demi haripun kita lalui, sehingga bulan datang menghampiri. Ketika bulan
terus berjalan, tiba-tiba tahun merayap menambah angakanya. Begitu seterusnya,
sampai abadpun melintas dan umur kita habis termakan olehnya.
Hidup
ini tidak lebih bagaikan air yang mengalir menuju muaranya, ia tidak mungkin
bisa kembali ke hulu sebagai sumbernya. Demikian juga, tidak mungkin kita
mengembalikan hidup berbalik ke arah masa
yang telah lalu. Seiring dengan berjalannya proses kehidupan, waktu terus
bergulir. Hingga datang kiamat kelak. Oleh karena itu, betapa sia-sianya hidup
ini apabila kita tiada menghiraukan kehadiran waktu dan memanfaatkannya untuk
mencari kebaikan demi kebaikan, sambil muhasabah mengoreksi diri terhadap
kelemahan-kelemahan yang ada untuk dibenahi.
Sebab,
semakin bertambah usia, bukan identik panjang umur, akan tetapi lebih
memperpendek jarak kita ke liang kubur. Sebagaimana di ungkapkan dalam sebuah
syair :
“Seseorang
itu dalam hidupnya,
Tiada lain penunggang
punggung umurnya.
Dalam suatu perjalanan yang terus dikikis,
Oleh hari demi hari dan bulan demi bulan
Dia tidur dan terjaga setiap harinya,
Semakin lama semakin menjauhi dunia
Dan semakin dekat keliang kuburnya”
Maka
tidak mengherankan kalau kemudian Rasulullah dengan arifnya menyerukan umat ini
agar memanfaatkan kehadiran waktu yang terus berjalan acuh inidengan
sebaik-baiknya.
“barang
siapa yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, maka dia merugi. Dan
barang siapa yang hari esok lebih buruk dari hari sekarang maka dia (tergolong) celaka “sabda beliau.
Selain
itu, Allah juga telah memperingatkan kepada kita dengan sebuah surat dalam
Al-Qur’an : wal ‘ashri (demi waktu ashar) firmanNya : bahwa sesungguhnya
manusia dalam kerugian”
Begitu
istimewanya waktu ashar, sehingga di pakai simbol disini, memngingat pada
waktu-waktu tersebut sering kita pakai untuk mengoreksi aktivitas dari pagi.
Waktu ashar menjadi saat tempat mengevaluasi berhasil tidaknya program harian.
Oleh karena itu, waktu ashar sering menjadi ajang penyesalan, sebab ketika
itulah dia baru sadar bahwa apa yang menjadi targetnya telah gagal. Gagal
menyelesaikan ambisi nafsunya yang biasanya begitu besar.
Untuk
itu, Allah di dalam ayat selanjutnya memberikan jawaban untuk menyongsong
keberhasilan hidup, dengan mengecualikan kelompok tertentu di tengah manusia
yang umumnya merugi yaitu : orang-orang yang percaya pada kebenaran (amanuu),
orang-orang yang beraktivitas berdasarkan kebaikan (‘amilus sholihat), mau
saling memberi tahu soal kebenaran (tawashau bil haqq), dan orang-orang yang
berwasiat untuk bersabar dalam kebenaran (tawashau bis shobri).
Demikianlah,
setiap muslim akan berupaya menggapai keselamatan dan kemuliaan dalam setiap
tarikan nafasnya, lewat neraca harian, mingguan, bulanan, tahunan, bahkan
seumur hidup. Semua bermuara pada satu hal, yaitu keselamatan kita nanti di
neraca alam mahsyar. Sebaik-baik tempat kembali adalah syurga dan
seburuk-buruknya adalah neraka jahanam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar