Jumat, 24 April 2020

Bersabarlah Diriku



Berharap Pada Makhluq-Nya, Sungguh Mengecewakan

I raise my head in hope - The ferris wheel turns - the stars, and the moon are beside you - The wind wanders freely with the night - Which cloud is crying? - Don’t know who I’m hurting for - My tears scatter with the rain - Because of you I resisted
(Your silhouette- eleanor lee)

   Setelah sekian lama tidak merasakan rasanya jatuh cinta, mengagumi seseorang dengan latar belakang rasa suka. tiba – tiba tersengat listrik dengan aliran paling tinggi, terkoyak hingga menangis tanpa suara menjadi saksi yang mewakili perasaan saat itu. Setidaknya pada waktu itu tidak sehisteris pertama kali ketika merasakan patah hati, udah pengalaman soalnya hhe...
   Lalu apa hubungannya dengan tema diatas? Sangat berhubungan sekali guys,  ketika kita memilih mencintai dalam diam atau di konteks ini tidak mengutarakan karena pinsip menghindari pacaran, secara tidak langsung kita menaruh harapan kepada makhluqnya. Pertanyaanya lantas apakah dia akan tahu? Kemudian setelah dia tahu lantas akan membalas perasaanmu kembali? Kemungkinan jawabannya hanya 2 (iya/tidak) maka kita ambil kemungkinan terburuknya yaitu “tidak”.
   Ohh betapa menyesalnya jika tahu jawabannya tidak, untuk apa selama ini kita menghabiskan tenaga memikirkannya sangat tidak berfaedah sekali bukan. Kita harus bermuhasabah lagi merenung dengan diri sendiri apakah sudah sejalan prinsip dangan aksi yang kita lakukan ‘tidak pacaran tapi terlalu berharap pada seseorang’. Seyogyanya jika kita sudah memegang prinsip dalam islam, aktivitas yang lain pun harus sejalan. Menerapkan prinsip islam secara komprehensif tidak setengah – setengah. Lalu bagaimanakah cara kita bermuhasabah?
  1. Mencintai karena Allah
Mari lihat kembali hati kita masing – masing, selami lagi hati kita benarkah kita sudah mencintainya karena Allah? Seperti apakah mencintai makhluq-Nya karena Allah? Apakah yang dengan mencintainya dapat mengingatkan dengan Allah?
Mari kita perjelas kembali mencintai dia karena Allah dengan mencintai Allah karena dia, hhe...gimana binggung gak? Coba di baca lagi kemudian dipahami kembali. Jika sudah memahaminya kemudian tanya dengan diri sendiri dibagian manakah kamu?
  1. Memantaskan Diri
Setelah kita meluruskan niat kita mengenai prinsip mencintainya karena Allah, lalu apakah secara langsung kita akan mendapatkan pangeran/permaisuri original dari Allah? Ataukan KW 1/2/3 atau malah KW super? Hhe...
 Dalam firmanNya berbunyi :

ٱلزَّانِى لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ
 
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. (An – Nur : 3)

Bagaimana kurang jelaskah ayat di atas? Lalu apakah yang perlu kita persiapkan untuk menjemput dia, seseorang yang engkau dambakan untuk menemanimu hingga akhir hayat dan harapan akan berkumpul d SyurgaNya kelak. Tidak lain adalah memantaskan diri, dengan apa? Pastinya memperbaiki diri kearah yang lebih baik, contohnya? Jika kita dahulu masih tebiasa berlebihan gojek (sendaugurau) dengan lawan jenis mari kita batasi, perbanyak ilmu agama, apalagi ilmu pernikahan. Mengapa saya menyebutkan ilmu pernikahan? Karena jika kita telah memegang prinsip mencintai karena Allah maka kita menjurus kepada penikahan, ikatan yang halal. Bukan lagi pacaran ataupun komitmen – komitmen bullshit atau apalah itu. Hhe maaf bahasanya ya teman – teman.

  1. Menetapkan Kriteria
Kemudian ikhtiar yang terakhir adalah menetapkan kriteria, jelaslah menurut sebuah hadist yang berbunyi :
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi).
Demikianlah hal – hal yang perlu kita persiapkan untuk menjemput jodoh kita, sebagian materi saya dapatkan setelah mendengarkan kajian ustdz Felix siauw dalam episode ngaji jomblo hhe...semoga bermanfaat bagi teman – teman pembaca dan Alhamdulillah melegakan hati yang pernah galau ini.


1 komentar:

  1. Kak ingin bertanya, ada laki2 nih tiba2 ingin melamar (belum kenal sama sekali), kalo diliat dari covernya alim bengeut,, lalu berkenalan 3 bulann, pdhal waktu e bulan itu gak cukup melihat seluk beluknya.. mohon pencerahannya

    BalasHapus